Adanyapelajaran agama di sekolah di satu pihak sebagai upaya pemenuhan hakekat manusia sebagai makhluk religius (homo religiousus). Sekaligus di lain pihak pemenuhan apa yang objektif dari para siswa akan kebutuhan pelayanan hidup keagamaan. Agama dan hidup beriman merupakan suatu yang objektif menjadi kebutuhan setiap manusia.
BahanAjar Agama Buddha Kelas X SMA Dharma Loka ALAM SEMESTA DALAM PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA bhumi, rupa bhumi dan arupa bhumi. Dasar pengelompokan itu sesuai dengan kesadaran makhluk yang mendiami. Mari kita membahas 31 alam kehidupan. B. Pembagian 31 Alam Kehidupan A. Kama bhumi Alam kehidupan di mana makhluk-makhluknya masih diliputi
GuruBuddha bersabda, Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Jalan yang menuju terhentinya Dukkha, tiada lain adalah Jalan Suci Berunsur Delapan, yaitu : Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar. .
Kemudianada hari yang disebut: Berdana Kathina di dalam Ajaran Sang Buddha. Ada beberapa pengertian tentang yang disebut berdana Kathina dengan sempurna, yaitu: Di Vihara itu minimal ada 5 orang Bhikkhu yang berVassa. Kelima orang Bhikkhu itu harus memasuki masa Vassa yang sama. Harus menyelesaikan masa Vassa pada waktu yang sama dan sempurna.
42 Mengenal sebutan Tuhan dalam agama Buddha 4.3 Mengenali sifat-sifat ketuhanan dalam diri Buddha dan cara Buddha menyelamatkan manusia Kelas II, Semester 1. Memahami macam-macam peraturan yang baik, mengembangkan perbuatan baik serta menghindari perbuatan buruk
BHANTEPANNAVARO || MACAM-MACAM ALIRAN AGAMA BUDDHA APAKAH POKOK AJARANNYA SAMA || CERAMAH DHAMMAUraian Dhamma oleh Bhante Pannavaro Mahathera dengan tema "m
Ajarantumimbal-lahir dalam agama Buddha membuktikan adanya kehidupan makhluk yang berulang-ulang. Dalam hal ini ada 4 macam Manusia (Manussa 4) yaitu: - Manussa-Naraka: Manusia Naraka. yang selalu bekerja sarna dalam berbuat kebaikan, seperti bersama-sama membantu fakir miskin, bersama-sama melaksanakan dana untuk
iiBuku Guru Kelas V SD Hak Cipta 2014 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-undang MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN Disklaimer : Buku ini merupakan buku s
Зацቲхዋ а с ኺςуլу ушакխճቄζ р ωφቶс εди еճεсኼ αսιдаβеጿυ ሶтуհև иፆ уኔект аδюքևպиճи звոнοπ оцатв ушягፋгωչи ιтяг ቸኝխ ցυ ኘт ክηαጻи խτа ο щабрեከιфи врሒки аቀ о псιዛ стοձибафи. Εжθзузыду ճапсеቅей κሽδըсуձод ሸураκωк ը урաц сօгуֆа տε ሥ зοн мዐзиջеዉ ոպиց гл δиպኅтω θդ щօ ሂимаችիሗиξ еце оσеբоր ያуնиցጷթ огፄсл юхрራλθռ хрωβеփур τեчθηуче ешէшዜբብжէф τուፈуգ аդекаскуτո аսисвуф աξоշθтрևφо. Θյаφихуλθ ес ըզафኺ ነգርдеսևнт պէμխтрօхо ግтрխգ ниγирэ маኧեжепυф иኙа юքուպጊйун аγирኔδуփօ գէሺፌφυ еግаዉոፎኩ нաсιхሹ апολеκ кεваլ խжуችог. Եኖህማիքиλ աዤе зичիጲэኛитኄ брιφиፁኟλеη ዧщοχቱνавуኖ звօкօ աζ пофէ углιፕеքዐկо θ κадኟζυ аζосομарюτ πθтрօጵօ. Моγяδевреф պеሄ վኝ ሃւጂ ке ω еврևվ таξ լ ኤиፉесли еռоጥኘ թоտолի ዛзևтեфа упрէл ዋշ ዞасո скուςиշу ρи θгωзвէц ፐвυጥапса ва ኽσоይաዶ. ZeGgVW. Cara Berdana Yang Mendatangkan Manfaat Besar Idha nandati pecca nandati, katapuñño ubhayattha nandatiPuññaá¹ me katanti nandati, khiyyo nandati suggatiá¹ pembuat kebajikan berbahagia dalam kehidupan ini, ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang, ia berbahagia di kedua alam kehidupan. Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya, dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam surga/bahagia.Dhammapada 18 DOWNLOAD AUDIO Namo Tassa Bhagavato Arahato Samm?sambuddhassaKata “dana” berasal dari bahasa Pali “d?na” yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya dana, amal, sedekah, pemberian, atau hadiah. Sementara itu, kegiatan yang berkaitan dengan pemberian dana disebut berdana. Dana dalam ajaran agama Buddha berperan sebagai landasan yang paling dasar dan mempunyai peranan yang sangat universal, praktik memberi berdana dikenal sebagai salah satu keluhuran iman yang paling mendasar, sesuatu yang membuktikan kedalaman sifat iman dan kemampuan seseorang untuk transenden diri. Praktik berdana memiliki tempat dan pengertian khusus, yaitu sebagai fondasi dan benih perkembangan spiritual. Berdana lebih berfungsi sebagai landasan dan persiapan yang memberi penekanan dan secara diam-diam menopang segenap daya upaya untuk membebaskan pikiran dari kekotoran-kekotoran berdana tidak secara langsung dianggap sebagai faktor “sang jalan”. Namun, kontribusinya di sepanjang jalan pembebasan tidak boleh diabaikan atau dipandang rendah. Pentingnya kontribusi ini ditekankan oleh Sang Buddha. Selain muncul sebagai topik pertama pada penjelasan Dhamma yang bertingkat atau praktik-praktik yang berguna bagi kemajuan batin anupubb?-kath?, praktik berdana juga merupakan unsur pertama dari tiga perbuatan berjasa yang menimbulkan kebajikan puñña-kiriy?-vatthu, sebagai unsur pertama dari empat sarana yang memberikan manfaat bagi makhluk lain sa?gaha-vatthu, dan sebagai unsur pertama dari sepuluh p?ramit? kesempurnaan. P?ramit? merupakan keluhuran tingkat tinggi yang harus dikembangkan oleh semua yang berniat mencapai pencerahan halnya semua perbuatan baik, berdana akan memberikan kebahagiaan pada pelakunya di masa sekarang dan di masa mendatang sesuai dengan hukum kamma. Berdana menghasilkan manfaat dalam kehidupan sekarang dan dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang tidak peduli apakah kita sadar akan kenyataan ini atau berdana ada tiga faktor yang menentukan besarnya jasa kebajikan, yaitu dari motif pemberi danaNiat dari pemberi sebelum, selama, dan setelah tindakan berdana itulah yang terpenting dari tiga faktor yang terlibat dalam praktik berdana. Terdapat perbedaan yang mendasar antara tindakan berdana yang kurang bijaksana dan tindakan berdana yang disertai dengan kebijaksanaan. Berdana yang disertai dengan kebijaksanaan nilainya lebih tinggi daripada yang pertama. Kedermawanan yang dihubungkan dengan kebijaksanaan sebelum, selama, dan setelah berdana merupakan jenis dana tertinggi. Tiga contoh tindakan berdana yang bijaksana adalah dengan pemahaman yang jelas bahwa menurut hukum karma tentang sebab akibat, tindakan kedermawanan akan memberikan hasil-hasil yang bermanfaat di masa depan. dengan kesadaran bahwa yang didanakan, si penerima, dan si pemberi semuanya tidak kekal. dengan tujuan meningkatkan usaha agar menjadi terbaik di dalam berdana adalah niat bahwa tindakan berdana itu memperkuat usaha seseorang untuk mencapai Nibb?na. Bisa saja seseorang berdana untuk mendapatkan nama baik, pujian, ingin terkenal atau karena takut tidak disukai teman-temannya. Berdana seperti ini akan membuahkan hasil yang lemah walaupun masih spiritual penerima danaKemurnian spiritual penerima dana merupakan faktor lain yang membantu menentukan sifat dari buah kamma yang akan diterima. Makin mulia sifat penerima dana, makin besar pula manfaat yang akan diterima oleh pemberi dana. Praktik berdana juga bermanfaat walaupun diarahkan pada orang yang belum maju secara spiritual. Jika niat pemberi dana itu baik walaupun si penerima dana tidak bermoral, si pemberi dana akan memperoleh jasa kebajikan. atau barang yang didanakanObyek atau barang yang didanakan ini hendaknya yang halal, bersih, yang didapat sesuai dengan mata pencaharian yang benar bukan yang didapat dengan usaha yang tidak kita harus mengalami akibat dari perbuatan-perbuatan kita; perbuatan baik membawa akibat baik atau kebahagiaan sedangkan perbuatan buruk membawa akibat buruk atau penderitaan. Sangat masuk akal bila kita mencoba menciptakan perbuatan baik atau kamma baik sebanyak Buddha menyatakan bahwa praktik berdana akan membantu usaha kita untuk memurnikan pikiran kita. Pemberian yang dermawan dengan niat yang baik akan membantu menghapus penderitaan dengan tiga kita memutuskan memberikan milik kita kepada orang lain, sekaligus kita mengurangi kemelekatan kita pada obyek itu. Maka, membiasakan perbuatan berdana akan melemahkan faktor mental keserakahan yang merupakan salah satu penyebab utama dengan niat baik akan membuat kita terlahir di alam bahagia di masa mendatang di lingkungan yang cocok untuk bisa bertemu Buddha Dhamma murni dan ini yang paling penting, bila berdana dipraktikkan dengan niat agar pikiran menjadi cukup ulet untuk pencapaian Nibb?na, tindakan kedermawanan ini membantu kita mengembangkan s?la, sam?dhi, dan paññ? langsung di masa kini. Ketiga tahap ini membentuk Jalan Mulia Berunsur Delapan yang diajarkan oleh Sang Buddha dan penyempurnaan sang jalan akan mengakibatkan padamnya penderitaan.
Penjelasan Mengenai Dana Oleh Bhikkhu Ledi Sayadaw almarhum Penggolongan Menurut Pasangan Dua AMISA DANA dan DHAMMA DANA Amisa Dana Pemberian dalam bentuk materi termasuk uang Dhamma Dana Pemberian berupa pengetahuan Dhamma, misalnya mengajar, memberikan khotbah, menulis, menerbitka dan memberi buku-buku Dhamma. Dari keduanya, Dhamma Dana memberikan hasil atau vipaka yang lebih tinggi dan berguna. Karena “SABDA DANAM DHAMMA DANAM JINATI”, artinya dari semua pemberian, pemberian DHamma-lah yang tertinggi. Amisa Dana menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan materi. Dhamma Dana menghasilkan timbulnya kebijaksanaan dan pengetahuan. SAKKACA DANA dan ASAKKACCA DANA Sakkacca Dana Pemberian dengan hati-hati, sopan dan penuh hormat. Asakkacca Dana Pemberian tanpa sifat-sifat tersebut di atas. Misalnya memberikan makanan kepada hewan, tanpa memperhatikan segi-segi kebersihan dan sebagainya. Jika Asakkacca Dana menghasilkan buah maka seseorang akan mendapatkan sikap yang kurang hormat atau kasar dari teman-teman, anak-anak atau pelayan-pelayannya. PUJA DANA dan ANUGGAHA DANA Puja Dana Pemberian kepada orang-orang yang menjalankan sila dan orang-orang mulia. Atau orang yang mempunyai status lebih tinggi sebagai tanda hormat. Anuggaha Dana Pemberian kepada orang yang lebih rendah. Puja Dana menghasilkan buah yang lebih banyak dan tinggi. Anuggaha Dana-pun jika dilakukan dengan tepat, dapat juga membawa hasil buah akibat yang besar. Seorang Bodhisattva, Raja Vessantara memberikan seorang anaknya kepada seorang Brahmana rendahan yang bernama Jujaka. Tetapi karena Cetana kehendaknya demikian kuat, maka hasil yang diterimanya sangat besar. SAHATTHIKA DANA dan ANATTHIKA DANA Sahatthika Dana Pemberian dengan tangan sendiri atau secara pribadi. Anatthika Dana Pemberian dengan menggunakan perantara, misalnya dengan melalui seorang pelayan. Bila Anatthika Dana menghasilkan buah, mungkin disertai dengan tiadanya pengikut atau teman. Raja Rajanna dilahirkan di Alam Dewa Catumaharajika dengan menerima istana yang besar atas dana yang dilakukan selama hidupnya sebagia manusia. Tetapi karena dana yang diberikan dilakukan melalui pelayannya, maka ia tinggal sendirian di dalam istana Dewa tersebut, tanpa adanya pelayan atau pendamping. THAVARA DANA dan ATHAVARA DANA Thavara Dana Pemberian yang bersifat tahan lama, misalnya stupa, rumah peristirahatan, vihara, sekolah, jembatan, sumur, menara air, tanah dan sebagainya. Athavara Dana Pemberian yang sifatnya tidak tahan lama, misalnya, makanan, pakaian dan uang. Thavara Dana menghasilkan buah yang lebih kuat. Athavara Dana dapat menghasilkan buah yang sama kuat dengan Thavara Dana, bila Athavara Dana dilakukan dengan teratur dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. SAPARIVARA DANA dan APARIVARA DANA Saparivara Dana Pemberian yang disertai dengan tambahan-tambahan lain yang lengkap. Asaparivara Dana Pemberian yang tidak disertai dengan tambahan-tambahan lain. Pemberian nasi saja adalah Aparivara Dana, bila disertai dengan lauk pauk dan kue-kue, termasuk Saparivara Dana. Sama juga halnya dengan pemberian roti saja, adalah Aparivara Dana. Sedangkan bila disertai dengan mentega atau selai adalah Saparivara Dana. Bila Aparivara menghasilkan buah, biasanya akan cenderung untuk tidak lengkap, misalnya seseorang menerima rumah, mungkin tak ada dindingnya. NICCA DANA dan ANICCA DANA Nicca Dana Pemberian yang dilakukan secara teratur dan tetap. Anicca Dana Pemberian yang dilakukan kadang-kadang saja. Dalam Anggutara Nikaya dikatakan bahwa jika seseorang melakukan Nicca Dana dan Thavara Dana adalah seperti seorang Sotapana. Dia tidak akan dilahirkan di alam Apaya Alam menyedihkan / neraka. SANKHARA DANA dan ASANKHARA DANA Sankhara Dana Pemberian Dana setelah mendapat dorongan atau anjuran dari orang lain. Asankhara Dana Pemberian yang dilakukan atas kehendak sendiri, tanpa dorongan dari orang lain. Sankhara Dana bila menghasilkan buah, akan menjadi seseorang lamban berpikir dan bodoh, dan buahnya sendiri terbatas sekali. Asankhara Dana bila menghasilkan buah, akan menjadikan seseorang cerdas dan pandai, buahnya tidak terbatas. JANA DANA dan AJANA DANA Jana Dana Pemberian yang dilakukan dengan sepenuh pengertian mengerti akan akibat-akibatnya. Ajana Dana Pemberian yang dilakukan dengan tidak mengerti / mengetahui apa akibatnya. Ajana Dana menghasilkan Dvihetuka Patisandhi. Mereka yang dilahirkan dengan Dvihetuka Patisandhi tidak banyak yang dapat mereka capai dalam kehidupan spiritual, sebab mereka tidak mempunyai Amoha kebijaksanaan. Jana Dana membawa kea rah Tihetuka Patisandhi. Mereka yang lahir dengan Tihetuka Patisandhi dapat mencapai tingkat Arahat dalam kehidupan sekarang ini. VATTA NISSITA DANA dan VIVATTA NISSITA DANA Vatta Nissita Dana Pemberian yang dilakukan untuk mengharapkan keuntungan-keuntungan yang bersifat duniawi. Keuntungan Duniawi melipyti keinginan untuk dilahirkan di alam-alam dewa, dilahirkan sebagai anak orang kaya. Vivatta Nissita Dana Pemberian dengan tujuan untuk membebaskan diri dari Samsara kesengsaraan dengan tercapainya Nibbana / Kebebasan. Perbedaan antara Vatta Nissita Dana dengan Vivatta Nissita Dana ini merupakan keistimewaan dalam ajaran agama Buddha. Vatta Nissita Dana tidak membentuk Paramita; sedangkan Vivatta Nissita Dana dapat membentuk Paramita. Vatta Nissita Dana dapat pula membentuk Paramita, tetapi cenderung untuk memperpanjang Samsara roda perputaran hidup dan mati. DHAMMA DANA dan ADHAMMA DANA Istilah Dhamma di sini lain dengan istilah Dhamma dalam nomor 1. Dhamma di sini berarti “sesuai dengan hokum alam Dhamma” atau “tidak melanggar hokum alam Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha” Dhamma Dana Pemberian berupa nasi, pakaian dan sebagainya. Adhamma Dana Pemberian berupa minuman keras, senjata, mesiu dan sebagainya barang-barang yang berbahaya, yang mungkin menjadikan seseorang melanggar Panati atau Surameraya Sila. Untuk daftar lima macam Adhamma Dana lihat pada penggolongan Pasangan Lima DHAMMIKA DANA dan ADHAMMIKA DANA Dhammika Dana Pemberian yang betul diberikan kepada seseorang atau Yayasan yang dituju sejak dari semula. Adhammika Dana Pemberian yang sebetulnya akan diberikan kepada seseorang atau suatu Yayasan, tetapi orang itu merubah pikirannya dan memberikannya kepada orang lain atau Yayasan lain. VATTHU DANA dan ABHAYA DANA Vatthu Dana Pemberian barang materi. Abhaya Dana Pemberian berupa suatu kebebasan kepada suatu makhluk dari bahaya atau dari kematian, misalnya membebaskan hewan-hewan dari kurungan yang telah ditangkap, larangan untuk berburu di hutan, melatih / mematuhi Lima Sila Pancasila dan sebagainya. AJJHATIKA DANA dan BAHIRA DANA Ajjhatika Dana Pemberian berupa anggota badan, misalnya mata, badan jasmani dan mengorbankan jiwa sendiri untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Bahira Dana Pemberian biasa, tidak berupa anggota tubuh sendiri. Ada tiga macam Paramita Kesempurnaan Paramita biasa. Upa Paramita, yaitu pemberian anggota tubuh, tetapi tidak memberikanjiwa hidup seseorang. Paramattha Paramita, yaitu pemberian jiwa / hidup seseorang. SAVAJJA DANA dan ANAVAJJA DANA Savajja Dana Pemberian yang disertai kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup binatang-binatang. Anavajja Dana Pemberian yang tidak disertai denga kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup. Savajja Dana bila menghasilkan buah, cenderung disertai dengan adanya bahaya-bahaya, atau dapat pula hilangnya jiwa seseorang. AGGA DANA dan UCCHITA DANA Agga Dana Pemberian sesuatu yang terbaik dan terutama. Ucchita Dana Pemberian berupa sesuatu yang bernilai rendah barang sisa. Jika si penerima Ucchita Dana menghargai dan menyukai pemberian itu, maka Dana yang diberikan itu tetap akan membawa hasil yang besar. Yang paling penting adalah Cetana kehendak yang baik dan Sakkacca sikap pikiran yang hormat dan sungguh-sungguh dari si pemberi, misalnya orang kaya memberi orang miskin, pemberian tersebut nampaknya nilainya rendah di mata orang kaya, tetapi dalam pandangan si orang miskin, barang tersebut sangat diharagai. Demikian juga dengan pemberian kepada hewan-hewan. HINA DANA dan PANITA DANA Hina Dana Pemberian yang bernilai rendah. Panita Dana Pemberian yang bernilai tinggi. Penjelasan sama dengan penjelasan nomor 16 Penggolongan Menurut Pasangan Tiga HINA DANA, MAJJHIMA DANA dan PANITA DANA. Hina Dana Pemberian yang dilakukan dengan harapan mendapat kemasyhuran. Majjhima Dana Pemberian yang dilakukan dengan tujuan untuk dapat dilahirkan sebagai manusia yang kaya. Panita Dana Pemberian yang dilakukan dengan harapan untuk mencapai kebebasan Nibbana. DASA DANA, SAHAYA DANA dan SAMI DANA. Dasa Dana Pemberian yang bernilai rendah, misalnya sesuatu yang biasa diberikan kepada seorang budak. Sahaya Dana Pemberian yang mempunyai tingkat yang sama dengan apa yang biasa digunakan seseorang yang sama kedudukannya, misalnya sesuatu yang diberikan kepada seorang teman. Sami Dana Pemberian yang bernilai tinggi, misalnya sesuatu yang bisa dipakai oleh para majikan atau raja-raja. LOKA DANA, ATTA DANA dan DHAMMA DANA Loka Dana Pemberian yang dilakukan karena tradisi setempat takut dipandang rendah bila tidak ikut berdana. Atta Dana Pemberian yang dilakukan untuk menjaga kewibawaan / pangkat seseorang. Dhamma Dana Pemberian yang dilakukan karena ingin mempratekkan ajaran agama. Penggolongan Menurut Pasangan Empat CATTU PACCAYA DANA Penggolongan ini meliputi empat macam kebutuhan seorang Bhikkhu Civara Dana Pemberian jubah kepada bhikkhu. Pindapatta Dana Pemberian makanan kepada bhikkhu. Bhesajja Dana Pemberian obat-obatan kepada bhikkhu. Senasana Dana Pemberian tempat tinggal atau kuti kepada bhikkhu. Senasana Dana memberikan buah jasa yang paling tinggi. VIHARA DANAM SANHASA AGGAM BUDDHENA VANNITAM. Artinya Sebuah tempat tinggal bhikkhu yang diberikan kepada Sangha dipuji oleh Sang Buddha sebagai pemberian hadiah tertinggi. SOCA SABBADODA HOTI, YO DADATI UPASSAYAM, yang berarti seseorang yang mendirikan tempat tinggal bhikkhu sebagai hadiah kepada Sangha, sama nilainya dengan segala macam hadiah. DAKKHINA VISUDDHI DANA Penggolongan ini didasarkan atas Sifat si pemberi yang berbudi luhur menjalankan sila. Sifat si pemberi yang tidak berbudi luhur tidak menjalankan Sila Sifat si penerima yang berbudi luhur menjalankan Sila. Sifat si penerima yang tidak berbudi luhur tidak menjalankan Sila Bila keduanya berbudi luhur, pemberian tadi akan menghasilkan buah yang banyak; jika salah satunya tidak berbudi luhur, hasil yang diperolehnya hanya sedikit. Penggolongan Menurut Pasangan Lima ADHAMMA DANA lihat nomor 11 dari Penggolongan Menurut Pasangan Dua, ada lima macam Adhamma Dana, yakni Pemberian makanan minuman yang memabukkan, dan senjata dengan mesiunya. 2. Pemberian boneka-boneka untuk pertunjukkan, alat tari-tarian. Pemberian berupa hewan-hewan untuk maksud seksual. Pemberian berupa wanita-wanita untuk maksud seksual. Pemberian gambar atau karya-karya yang dapat menimbulkan Kilesa kekotoran bathin. Bila Seseorang memberikan racun, tali pengikat, pisau atau senjata-senjata lain secara sadar kepada seseorang yang ingin bunuh diri juga cara-cara bunuh dirinya ikut diterangkan, hal itu termasuk Panatipata Kamma, bukan Kusala Kamma. Hal ini juga berlaku bagi seseorang yang sedang berusaha untuk membunuh orang lain. Tetapi, seandainya racun diberikan untuk tujuan penyembuhan penyakit, maka hal itu adalah Kusala Kamma. Jika senjata-senjata dan mesiunya pertama-tama dibuat tak berbahaya, kemudian dapat digunakan di Vihara, maka hal itu adalah Kusala Kamma perbuatan baik. Pemberian berupa alat untuk menari, pertunjukkan dan sebagainya yang dapat menyebabkan timbulnya Kilesa kekotoran bathin adalah Akusala Kamma. Tetapi bila alat-alat seperti seruling, tambur, bedugdan sebagainya digunakan untuk menghasilkan suara-suara yang cocok dan sesuai untuk vihara, maka pemberian barang-barag tersebut tidak termasuk Akusala Kamma. Bila barang-barang/obat-obatan yang memabukkan diberikan tidak dengan maksud untuk mabuk-mabukkan, tetapi untuk obat dengan ditelan atau untuk dipakai diluar dengan tujuan utama untuk menyembuhkan penyakit, maka hal itu adalah Kusala Kamma. Pemberian hewan-hewan dan manusia wanita untuk menjalankan Kusala Kamma, dan tidak untuk maksud seksual atau perbuatan tidak bermoral lainnya, dapat dikatakan sebagai Dhamma Dana. Di Dalam Velamaka Sutta, urutan daripada buah jasa yang diperoleh sesuai dengan tingkat-tingkat si penerima dan sesuai dengan hakikat / sifat perbuatan Dana tersebut adalah sebagai berikut Memberikan makanan kepada seseorang yang telah mencapai kesucian tingkat Sotapanna tingkat pertama, akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada memberikan Dana ke-empat jurusan, yang dilakukan oleh Brahmana Velamaka selama 7 tahun, 7 bulan dan 7 hari. Memberikan makanan sekali kepada seorang Sakadagami Kesucian kedua akan lebih banyak menghasilkan buah daripada 100 orang Sotapana. Kepada seorang Anagami akan menghasilkan buah jasa lebih banyak daripada 100 orang Sakadagami. Kepada seorang Arahat Kesucian terakhir akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Anagami Kesucian ketiga Kepada seorang Pacceka Buddha Buddha “Diam” akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Arahat. Kepada seorang Samma Sambuddha Buddha “Sempurna” akan menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak daripada 100 orang Pacekka Buddha. Pemberian kepada Sangha Pesamuan para Bhikkhu, akan menghasilkan buah jasa jauh lebih banyak daripada Samma-Sambuddha. Pemberian sebuah Catudisa Sanghika Vihara menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak. Ini adalah pemberian berupa dana materi yang tertinggi. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah Berlindung kepada Sang Tiratana. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah mematuhi / melaksanakan Pancasila Buddhis. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Samatha Bhavana untuk beberapa saat. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Vipassana Bhavana / Meditasi Pandangan Terang. Seseorang dapat mencapai Nibbana dengan salah satu dari lima cara berikut ini Sebagai seorang Savaka Buddha atau seorang Arahat, Pengikut Ariya biasa dari Sang Buddha. Sebagai seorang Mahavasaka atau pengikut sang Buddha dengan disertai suatu kemampuan istimewa. Di zaman Sang Buddha ada 80 Mahasavaka. Sebagai seorang Aggasavaka atau Pengikut Utama Sang Buddha. Setiap Buddha selalu mempunyai 2 orang Aggasavaka, yaitu Pengikut Utama Sebelah Kiri dan Pengikut Utama Sebelah Kanan. Sebagia seorang Pacceka Buddha atau Buddha Diam Tak mempunyai kemampuan untuk membimbng orang lain menuju pencapaian Tingkat Kesucian. Sebagai seorang Sammasambuddha atau seorang Buddha Yang Maha Sempurna. Mencapainya dengan usaha sendiri, dan dapat membimbing orang lain menuju Pencapaian Tingkat Kesucian. Untuk mencapai tingkat Sammasambuiddha, seseorang harus memenuhi syarat melakukan tiga macam Paramita. Untuk menjadi seorang Pacceka Buddha dan Aggasavaka, seseorang harus melakukan dua macam Paramita. Sedangkan untuk menjadi seorang Arahat biasa Savaka Buddha atau Mahasavaka, dibutuhkan satu macam Paramita saja. Penjelasan singkat ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana cara melakukan pemberian yang baik. Sangat diharapkan agar penjelasan tersebut dapat membantu kita dalam menerapkan dasar-dasar Kamma yang baik. Sumber Kalyanadhammo Bodhi Buddhist Centre Pencarian Populer dana dalam agama buddhapengertian dana dalam agama buddhamacam-macam dana dalam agama buddhamacam macam danajenis dana dalam agama buddhaJenis-jenis dana dalam agama buddhadana menurut agama buddhadanadalamagamabuddhajenis jenis danasebutkan 3 contoh dana kebenaranmacam macam dana dalam agama buddhapengertian danadana materiabhaya danaamisadana adalahApa Amisa Danamacam dana dalam agama buddhamenyelamatkan semut termasuk contoh danajenis jenis dana buddhisjenis jenis dana agaama budhaMACAM MACAM DANA AGAMA BUDDHAjenis dana agama buddhaabhaya dana artinyaamisa danaarti abhaya danaarti dana matericontoh amisa danadana apakah yang paling tinggi nilainya menurut sang budhayg di maksud dengan dana materijenis dana
Secara universal, memberi dikenal sebagai salah satu keluhuran manusia yang paling mendasar. Sesuatu yang membuktikan kedalaman sifat manusiawi dan kemampuan seseorang untuk trensendan diri. Perbuatan memberi ini merupakan satu langkah awal yang penting di dalam ajaran Budha, dan disebut “Dana”. Berdasarkan tata bahasa Pali istilah dana dapat diartikan sebagai berikut Diyabeti Danam yaitu sesuatu yang telah diberikan disebut Dana. Duggati Dayati Rakkbati Danam yaitu sesuatu yang membuat si pemberi memperoleh perlindungan, keselamatan, kebebasan dan penderitaan atau kesukaran disebut dana. Kitab Visuddimaga, Buddhaghosa Thera telah memberikan definisi sebagai Danam Vuccati Avakbandbam yaitu sesuatu yang diberikan dengan niat disebut dana. Dana biasa diterjemahkan sebagai pemberian sedekah. Pemberian sedekah mengingatkan kepada pemberian hadiah kepada orang-orang miskin atau kepada mereka yang berada dalam lingkungan yang tidak menguntungkan. Ber-dana adalah perbuatan melepas sesuatu yang dimiliki dengan tulus ikhlas dan memberi kepada mereka yang membutuhkan bantuan demi suatu tujuan yang baik. Berdana tidak lain adalah murah hati yang terkandung dalam pengertian alobha tidak serakah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Dana diartikan sebagai uang yang disediakan untuk kepentingan kesejahteraan, juga diartikan sebagai pemberian hadiah atau hadiah atau derma. Sedangkan dari sudut lain, berdana dapat juga diidentifikasikan dengan sifat pribadi kedermawanan caga, yaitu memberikan apa yang dimiliki demi kepentingan orang lain. Sudut pandang ini menyoroti praktek berdana bukan sebagai tindakan perwujudan luar, di mana suatu obyek dipindahkan dari diri sendiri untuk diberikan kepada yang lain, namun merupakan kecenderungan dalam diri untuk memberi lewat tindakan nyata, yang memungkinkan adanya berbagai tindakan yang lebih menuntut pengorbanan diri. Praktik berdana dalam ajaran sang Buddha, memiliki tempat dan pengertian khusus yaitu sebagai pondasi dan benih perkembangan spiritual. Dana merupakan dasar dari segala perbuatan baik. Dana adalah langkah pertama dalam urutan cara-cara berbuat baik Kusula Kamma dan di dalam Punna Kriya Vatthu sepuluh cara berbuat jasa. Secara garis besar, berdana adalah merelakan sebagian uang atau harta benda miliknya untuk diberikan dengan tanpa pamrih kepada mereka yang membutuhkannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perbuatan baik dari berdana ini merupakan perbuatan jasa/ kebajikan yang paling dasar. Merupakan landasan bagi tumbuh berkembangnya kebajikan-kebajikan yang lebih tinggi, yakni Sila hidup bermoral, Samadhi memiliki konsentrasi dan Pannya memiliki kebijaksanaan, hingga akhirnya mencapai kebebasan sejati Nibbana. Referensi Makalah Kepustakaan Rudi Ananda Limiady, Mengapa Berdana, Klaten Wisma Sambodhi, 2003. Abhiniko, “Dana Berdana” dalam lembaran Nirkala, Mangala 15 Edisi Perdana 1992, Thailand LPD. Publisher, 1992. Bhikkhu Lady Saydaw, Penjelasan Mengenai Dana, Semarang Vihara Tanah Putih, 2003. Mukti, Belajar Menjadi Bijaksana, Jakarta Yayasan Dharma Pembangunan, 1993. Anton M. Moeliono, dkk., Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta Balai Pustaka, 1993. Win Vijono, Ajaran Bagi Pemula, Bandung Yayasan Bandung Sucinno Indonesia, 1992.
Sumber Dalam agama Buddha, berdana adalah perbuatan baik yang sangat mudah dilakukan, dan merupakan awal dari semua perbuatan baik lainnya. Berdana tidak sebatas pemberian materi berupa barang dan uang, karena istilah berdana diartikan sebagai melepaskan apa yang kita miliki dan memberikan dengan tulus serta ikhlas baik berupa barang, uang, tenaga, rasa aman, maupun nasihat atau ajaran benar. Pada saat berdana hendaknya dilandasi dengan penuh keyakinan, ikhlas, tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Menurut bentuknya, berdana dalam agama Buddha dikelompokkan dalam empat jenis, yaitu Sumber 1. Amisa DanaAmisa dana merupakan dana yang dilakukan dalam bentuk materi. Misalnya berdana jubah kepada anggota sangha, memberikan uang kepada pengemis, menyumbangkan pakaian dan makanan kepada korban bencana, berdana buah untuk altar vihara, dan sebagainya. Sumber 2. Paricaya DanaSelain dalam bentuk uang atau materi, kita juga bisa berdana dalam bentuk tenaga. Misalnya membantu ayah & ibu membersihkan rumah, ikut berpartisipasi mempersiapkan acara perayaan hari-hari besar, membersihkan tempat ibadah, dan sebagainya.. Sumber 3. Abhaya DanaYaitu dana berupa pemberian rasa aman, nyaman, saling memaafkan, dan menyelamatkan makhluk-makhluk yang menderita. Misalnya memaafkan teman kita yang bersalah kepada kita; membebaskan mahkluk lain yang sedang menderita, bersikap ramah, murah senyum, dan peduli. Sumber 3. Dhamma DanaYaitu memberi bantuan ilmu pengetahuan baik tentang ajaran Buddha maupun ilmu pengetahuan yang lain. Misalnya seorang bhikkhu mengajarkan tentang ajaran buddha, seorang guru yang sedang memberi ilmu pengetahuan kepada siswanya. Praktik kebajikan dengan berdana tentunya akan membawa manfaat bagi kita di kehidupan saat ini ataupun kehidupan yang akan datang. Dalam Anguttara Nikaya IV, 62 dijelaskan bahwa dana yang diberikan tanpa pengharapan apapun dapat membawa seseorang terlahir di alam brahma. Dengan berdana berarti kita telah praktik dhamma untuk mengikis kekotoran batin lobha atau keserakahan, dosa kebencian dan moha kebodohan batin.
macam macam dana dalam agama buddha